Postingan

Kereta

Ini tentangnya. Tentang kami. Yang kelewat serius. Dalam mengartikan suatu hubungan Dan ternyata, semesta sedang bercanda. Sambil memberikan makna hidup yang paling berharga. Bahwa mempunyai tempat singgah, bisa kok untuk menjadi rumah. Walau hanya sebentar. Enam jam. Di kereta. Kita pernah saling mendengarkan itu dan saling “sepaham” itu.  Aku tidak pernah menyangka. Dalam sepotong kecil hidupku, bisa merasakan film “Before Sunrise”. Indah di awal dan menguatkan di akhir.  Aku bertemu dirinya di kereta. Kereta dari Stasiun Pasarsenen menuju Semarang Tawang. Aku ingat sekali, itu adalah kembali ke Semarang tersedih yang pernah aku rasa. Aku tak tahu apa penyebabnya kala itu.  Sebelum aku tiba di Stasiun Pasarsenen, aku diantar oleh teman yang pernah aku sukai (haha). Aku ingin mengakuinya saat ia memboncengiku. Tapi, saat itu aku terburu-buru. Jadi, berakhir memendam perasaan dan mengikhlaskan.  Lanjut, saat itu aku ingin mengambil koper di tempat penitipan barang. S...

Cinta dalam Cengkeraman Kapitalisme

Jika Pramoedya Ananta Toer menulis tentang Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer, kali ini terinspirasi darinya, aku hendak menulis “Cinta dalam Cengkeraman Kapitalisme”. Ini kisahku yang pernah menjalani hubungan secara daring selama sepekan.  Haha, iya sepekan. Silahkan ternganga, kaget, bingung, dan tertawa. Ada ruang untuk itu, hahaha (aku pun juga tertawa wkwkkw).  Aku bertemu dengannya tak sengaja di salah satu grup. Kita sama-sama freelance di suatu media. Sejak lama, memang kita pernah berbincang di chat , namun hanya sebentar. Mungkin aku sering memberikan apresiasi kepadanya. Sebab, tulisannya banyak memublikasi tentang pergerakan masyarakat sipil. Yangmana aku juga suka menulis berkaitan dengan hal itu juga. Dari hal-hal itulah, mungkin ia melihat konsistensiku.  Lalu, inilah timingnya . Saat ada berita tentang petani dari Laoli, Sulawesi, aku langsung membalas artikelnya untuk bertanya terkait isu itu. Sambil sedikit berdiskusi, seiring berjalannya waktu k...

Langit dan Laut

Gambar
Seperti matahari dengan bulan Saat matahari masanya sinari kami Bulan tertidur dulu Dan membiarkan matahari bersinar Kini, Saat matahari kelelahan Bulan yang gantikan Sinari kami Sederhana memang Berganti peran  Untuk sinari sekitarnya Namun, Seandainya aku matahari, Belum kutemukan Bulanku Yang pahamiku  Kala aku ragu Jatuh, lelah, lelap Jika aku telah temukan bulan Aku akan senang Ada yang pahamiku Dan berganti peran denganku Namun, egoisnya aku Aku juga tak mau Kita hanya bertemu  Saat dini hari dan senja Hanya bertemu  Di sisi yang berhadap-hadapan Tak pernah beriringan Untuk waktu yang lebih lama Apalagi selamanya? Akan jadi gerhana, kami ini Yang justru Malah berikan kegelapan Bagi sekitarnya Bukan lagi sinar  Seperti diri kami masing-masing "Seutuhnya" Walaupun pertemuan kita  Terasa indah dan sebentar Namun tak bisa saling bersama Untuk waktu yang lebih lama Terlebih memiliki? Apa aku perlu untuk menjadi bintang? Yang menemanimu bersinar? Turunkan e...

Perlahan, Susur Jalan Gelap Perjuangan di Tengah Terangnya Ketakutan

Gambar
Hai. Kali ini aku ingin mengungkapkan keresahanku. Akhir-akhir ini, banyak sekali berita terkait temanku, Andrie Yunus. Aku yang terkejut kala beritanya beredar, hingga sekarang masih meminimalisir kabar tentangnya. Aku memang bukan siapa-siapanya. Namun, sebagai orang yang pernah berbicara one-a-one dengannya, masih belum menerima. Mengapa terjadi kepadanya? Walaupun, kini aku sudah tahu bahwa ia memang vokal menyuarakan berbagai isu tentang hak asasi manusia.  Aku ingat sekali. Beberapa akhir ini, saat aku ke lantai bawah di rumah, ada berita tentangnya. Begitu juga dengan bapakku. Ia menonton video terkait Andrie. Adikku dan mamaku yang juga membahas dan penasaran dengannya . Aku lelah .  Namun, aku sadar. Hal itu terjadi bukan hanya karena beritanya sedang dikawal. Tapi juga karena lembaga tempat Andrie bekerja, pernah membuat kegiatan yang aku ikuti. Mungkin, untuk mengulurkan benang kusutku, aku akan menceritakan sedikit tentang kronologinya.  Entah, Bagaimana Bisa ...

Selalu Ada "Pertama Kali”, “Berkali-kali”, dan “Terakhir Kali”

Gambar
  Sudah sedari lama aku ingin menuliskan hal ini. Disaat aku tengah menjalani banyak hal “pertama kali” selama beberapa bulan terakhir di kota ini. Kehidupan yang semakin realistis, semakin menyadarkanku agar meluangkan waktu untuk merenung dan memaknai setiap hal. Hal yang apa? Hal yang menakutkan karena pertama kali mendatangi suatu tempat, hal yang membuat ingin marah, kesal, meregulasi emosi, bahkan hingga tiba di titik pasrah. Setelah merasakan kelelahan akan realita tersebut, ada baiknya untuk aku bersyukur. Mensyukuri setiap hal yang terjadi. Hal yang menuntunku untuk belajar setiap detiknya.  Namun, setelah merenungi dan mensyukuri banyak hal tersebut, terkadang kita lupa bahwa selalu ada hal “pertama kalinya” yang tanpa kita sadari telah kita lalui. Pengalaman “Pertama kalinya” di hidupku yaitu: 1. pertama kali bertemu seseorang  2. pertama kali memberi atau menerima suatu hal 3. pertama kali merasa jatuh cinta 4. pertama kali patah oleh ekspektasi 5. pertama kal...

Jalan Perenungan

Gambar
Halo, gimana kabar kalian sekarang? Semoga tetap merasakan hidup ya! (amin) Aku ingin menceritakan pengalamanku hari ini yang sangat bang-bing-bung. Aku bangun pagi sambil puyeng dikit . Dikarenakan aku tidak biasa bangun pagi di liburan kali ini, hwhehwehwe . Aku tetap berniat untuk menghadiri sidang salah satu tahanan perempuan. Ia ditangkap perihal story instagramnya yang dianggap mengajak aksi saat Agustus, lalu. Aku sudah bersiap untuk berangkat pukul 9 pagi. Namun, karena aku tidak chill, jadi aku gak lihat poster pengumuman sidangnya, deh . Alhasil, lokasi yang sedang aku tuju salah. Aku baru menyadarinya saat perjalanan. Pasrah nan bingung, akhirnya aku tetap bersikukuh untuk tetap pergi ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan tersebut. Perjalanan gagal dimulai, hehehe . Sebelumnya, kukira lokasi awal di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Jadi, keputusanku yaitu untuk turun di Halte Pasar Baru Timur. Syukurnya, tiba-tiba aku seperti dibisikkan oleh semesta untuk melihat poster di...

Nafas Dua Puluh

Gambar
  Halo, kenalin aku manusia yang pernah kalian kenal (entah sekejap atau sudah lama). Ya, kalian biasa kenal aku dengan sapaan: wina. Sudah lama tak berjumpa dengan tulisan ringan. Kita anggap saja ini ringan ya untuk awalan. Jadi, dalam menulis ini aku ada pantangan. Hanya satu yaitu: “Menulis tanpa menghapus kata untuk mengubah konteks.” Misalnya, aku ingin menulis: “Aku lapar” tapi aku ganti “Aku senang”, nah itu ditentang oleh ketentuan yang aku tulis sendiri. Oke, kita mulai ya, hehe. Satu tahun ini, aku mengalami banyak hal baru dalam hidup. Selama setahun sebelumnya (2024), full-year menjadi anak rantau. Kini aku tertantang untuk melanjutkan hidup kembali di tahun 2025, dengan kiat-kiat yang sudah diberi clue pada tahun-tahun sebelumnya. Hmm , baik kita mulai bahas di bulan pertama. Let’s goww! Januari. Hmm , banyak sekali hal menantang yang aku hadapi bersama teman-teman. Aku mengikuti mahasiswa pecinta alam. Menjadi hal yang menakutkan sekaligus aku tak mau “takut pada ...