Cinta dalam Cengkeraman Kapitalisme
Jika Pramoedya Ananta Toer menulis tentang Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer, kali ini terinspirasi darinya, aku hendak menulis “Cinta dalam Cengkeraman Kapitalisme”.
Ini kisahku yang pernah menjalani hubungan secara daring selama sepekan.
Haha, iya sepekan. Silahkan ternganga, kaget, bingung, dan tertawa. Ada ruang untuk itu, hahaha (aku pun juga tertawa wkwkkw).
Aku bertemu dengannya tak sengaja di salah satu grup. Kita sama-sama freelance di suatu media. Sejak lama, memang kita pernah berbincang di chat, namun hanya sebentar. Mungkin aku sering memberikan apresiasi kepadanya. Sebab, tulisannya banyak memublikasi tentang pergerakan masyarakat sipil. Yangmana aku juga suka menulis berkaitan dengan hal itu juga. Dari hal-hal itulah, mungkin ia melihat konsistensiku.
Lalu, inilah timingnya. Saat ada berita tentang petani dari Laoli, Sulawesi, aku langsung membalas artikelnya untuk bertanya terkait isu itu. Sambil sedikit berdiskusi, seiring berjalannya waktu kita saling membicarakan keseharian masing-masing di hari itu. Tiba saatnya, ia bertanya padaku untuk menjadi “pasangannya”.
Jujur, ini hal yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Apa arti pasangan? Apa ini benar dan serius? Namun, karena aku belum pernah mencoba dan kita mungkin memiliki ketertarikan yang sama dalam hal menulis, aku terima ajakannya.
Disinilah bermula. Ia mulai menceritakan suka-duka dirinya selama mengikuti beberapa aksi. Aku masih menikmati sepak terjang yang ia ceritakan. Aku jarang sekali bercerita karena, aku menganggap ceritaku tak seberapa dengan ceritanya. Mungkin silahkan menilai apakah itu seimbang atau tidak, haha.
Lalu, berlanjutlah ke cerita yang lebih detail. Sebelumnya aku tak menyangka, kalau dalam waktu 3 hari saja, ia sudah bercerita banyak hal. Namun, katanya ia percaya padaku. Baiklah. Makanya aku tak memberi tahu kepada kalian detail jelas identitasnya dan hanya gambaran besar ceritanya.
Kini memasuki poin dalam judul. Ia bercerita banyak tentang bagaimana ia bekerja dari pagi sampai tengah malam. Mulai dari bidang logistik, hukum, hingga media. Dalam 1 hari, sudah ada 3 bidang pekerjaan. Gila, menurutku gila saja, haha.
Dirinya, Kapital, dan Interaksi Kami
Ia juga menyampaikan bahwa seringkali mendapat ucapan dari teman-temannya, “Ngapain umur segitu kamu masih ikut aksi?” Mungkin teman-temannya beranggapan kalau sudah sepatutnya ia fokus bekerja. Padahal, ia pun bekerja kurang lebih 20 jam. Huh, pandangan masyarakat yang sangat kapital.
Padahal, ia mengikuti aksi sebagai bentuk protes atas kerja-kerjanya, yang seringkali menuntut dirinya untuk mengeluarkan usaha berkali-kali lipat untuk mencukupi kebutuhannya.
Dari sana, secara tak sadar, aku menyerap energi reflektif yang ia curhati padaku. Aku semakin sulit untuk bercerita, sebab mendengar ceritanya saja terasa exthaused.
Inilah cara kapital membentuk secara tak sadar, pola hubungan yang kapitalistik. Keduanya dianggap perlu saling menguntungkan, dan ada kemungkinan satunya dirugikan. Namun, tidak ada pihak yang benar-benar untung. Sebab, pikiran kita sama-sama terbentur dan terbentuk oleh jalan kapital yang sangat realistis.
Jika kita melihat dalam skala yang lebih luas lagi, ini semua bentukan dari “Bagaimana struktur sosial bekerja?”
Begini.
Sistem menginginkan produktifitas setinggi-tingginya -> produk / jasa dihasilkan -> pihak tertentu dapat banyak keuntungan -> hal yang dapat merugikan pihak tersebut: dipotong/ disingkirkan -> berulang -> menciptakan masyarakat yang apatis, pesimis, sinis, dan apolitis.
Tentu, energi bagi mereka yang masih memiliki harapan akan nilai-nilai kehidupan yang baik, semakin terkikis perlahan-lahan energinya.
Akhirnya, demi kesehatan pikiran dan perasaanku, aku menyampaikan padanya bahwa aku belum bisa menjadi “kiper” atas perasaanya. Sebab, aku menangkap jelas kisah-kisahnya yang menularkan ketakutan dan kekhawatiran bagiku. Walaupun, ia menganggapku sebagai orang yang mendengarkan kisahnya.
Sekarang, semoga kita belajar untuk menghadapi dunia yang penuh dengan logika kapital ini, dengan terus belajar mencintai tanpa termakan oleh energi kapital.
Dan kita sudah percaya ada “kekuatan antara cinta dan belajar”, dari awal kita saling mengenal.
Komentar
Posting Komentar