Perlahan, Susur Jalan Gelap Perjuangan di Tengah Terangnya Ketakutan




Hai.
Kali ini aku ingin mengungkapkan keresahanku. Akhir-akhir ini, banyak sekali berita terkait temanku, Andrie Yunus. Aku yang terkejut kala beritanya beredar, hingga sekarang masih meminimalisir kabar tentangnya. Aku memang bukan siapa-siapanya. Namun, sebagai orang yang pernah berbicara one-a-one dengannya, masih belum menerima. Mengapa terjadi kepadanya?
Walaupun, kini aku sudah tahu bahwa ia memang vokal menyuarakan berbagai isu tentang hak asasi manusia. 

Aku ingat sekali. Beberapa akhir ini, saat aku ke lantai bawah di rumah, ada berita tentangnya. Begitu juga dengan bapakku. Ia menonton video terkait Andrie. Adikku dan mamaku yang juga membahas dan penasaran dengannya. Aku lelah

Namun, aku sadar. Hal itu terjadi bukan hanya karena beritanya sedang dikawal. Tapi juga karena lembaga tempat Andrie bekerja, pernah membuat kegiatan yang aku ikuti. Mungkin, untuk mengulurkan benang kusutku, aku akan menceritakan sedikit tentang kronologinya. 

Entah, Bagaimana Bisa Terjadi?

Kamis, 12 Maret 2026, pukul 11 malam, ia disiram air keras oleh beberapa orang di Salemba. Lalu, ia merasa tubuhnya panas dan melepaskan baju serta motornya. Dari situasi yang terlihat, beberapa menit sebelum kejadian, ada beberapa orang yang berlalu-lalang di jalan tersebut. Namun, setelah disiram, motor dan pengendara tersebut meninggalkan jalan dan situasi berlangsung sepi. Hal ini menciptakan dugaan pertama bahwa itu semua telah direncanakan.

Beberapa orang mengerumuninya pasca penyiraman itu. Tepat di jembatan, Andrie terduduk dan dilihat oleh beberapa warga yang kebingungan. Satu diantaranya ada yang mengatakan bahwa, “Oh, orang kontras nih, orang LBH!”

Hal ini yang menjadi dugaan kedua bahwa ada pihak yang mengenali Andrie di sekitar lokasi kejadian. Setelah itu, aku mendapatkan informasi bahwa Bang Rizky dan Dingga membawa Andrie untuk ke RSCM. Aku tak bisa membayangkan, seberapa dalam emosionalnya Bang Rizky dan Dingga untuk melihat, sekaligus tetap harus menangani kondisi Andrie. 

Setelah itu, kabarnya terus menyeruak di Whatsapp ku. Dari grup Padus Gitaku informasi tersebut aku dapatkan. Bahkan bapak mengirimkan berita itu padaku. Lalu, aku langsung reaktif untuk ingin ke rumah sakit. Namun, karena belum langsung bisa dijenguk, aku pun ke Konferensi Pers di LBH Jakarta. Aku mendapat informasinya dari bapak dan pak Alif Padus, hehe bersyukur. 

Lalu, setibanya di LBH Jakarta. Aku bertemu dengan Bang Bone, Mas Beni, Mas Dimas (KontraS), dan salah satunya teman baruku yaitu Michelle yang sedang magang dari Jaring.id.

Kami mendengar konferensi tersebut bersama-sama. Aku pribadi dengan perasaan sedih. Kami merasakan solidaritas membara dan keprihatinan yang mendalam. Terutama saat video dipertontonkan, namun Mas Dimas ter-trigger. Setelah itu, aku langsung memeluk Mas Dimas dan merasakan “down” darinya. Makanya sampai sekarang aku masih merasakan down. Namun, aku harap setelah menulis ini bisa lebih menerima dan siap mengawal kasus bersama. 

Saat konferensi sudah selesai, aku berbincang dengan Michelle dan bertemu dengan Hafiz. Kami saling mengungkapkan kesedihan kami. Lalu, yang seharusnya kami berbuka puasa bersama KontraS dan keluarga korban pelanggaran hak asasi manusia, dengan segera, aku dan Hafiz lebih memilih ke LBH hanya untuk bersolidaritas.

Aku dan Hafiz langsung ke RSCM. Walaupun belum bisa dikunjungi, kami hanya penasaran dengan kondisi di sana. Lalu, setibanya kami bertanya-tanya arah menuju Gedung Kanigara, kami tiba dan duduk berdua terlebih dahulu. Tak beberapa lama setelah itu, kami bertemu dengan Bang Hans. Ia mengucapkan salam dan mengajak kita untuk duduk di sisi lain.

Malam Risau Berbalut Solidaritas

Kami berbincang-bincang santai, bertukar risau dan pulang pukul 9 malam.

Tak berhenti di sana, aku juga banyak merasakan kegelisahan. Seperti yang aku sampaikan di awal. Sehingga, sekarang aku deactive akun instagram karena banyak sekali postingan tentang dirinya di berandaku. 

Sampai akhirnya aku menyadari bahwa diriku banyak menginternalisasi isu hak asasi manusia ke dalam kehidupanku pribadi secara perasaan. Mungkin aku mengalami secondary trauma atau compassion fatigue (kelelahan emosional)? Aku kelelahan mendapat informasi yang membuatku memikirkan perasaan Andrie dan teman-teman yang bersolidaritas.

Aku sedih, aku gak tau harus apa. Tapi, Tuhan tahu aku sedih dan perlu untuk tetap berjuang. Sebab, Andrie juga pasti pernah sedih dan terus berjuang. Maka, ada titik di mana aku hadir kedua kalinya ke RSCM dan mengajak keempat temanku. Irma, Lita, Zyla, Mas Beni. Lalu, tanpa sengaja kami membuat video solidaritas. Sedikit kemenangan kecil karena kami masih terus berjalan walaupun terluka, huhuhu.

Ternyata setelah kurenungi, aku memang sedari di Semarang langsung menge-chat kakak tingkatku untuk mengikuti Aksi Kamisan. Setelah itu, aku mengenal banyak hal yang menurutku seru (kala itu). Ternyata, semakin konsisten gerakan kawan-kawan, semakin meletup apinya.

Sekarang, aku perlahan bisa mengurai benang kusutku. Terima kasih Tuhan, Terima kasih semesta. Kalian memberikanku banyak pelajaran tentang perenungan dan pergerakan hidup. 

“Memang, terkadang “lakuin aja dulu” perlu dijalankan, untuk mengurangi overthinking di tengah kehidupan yang terus berjalan, ya.”

Seperti ke rumah sakit secara spontan dan menulis ini. 
Aku harap, warga penerima informasi, tidak terkecoh bahwa peristiwa ini adalah skenario ajang “kuat-kuatan” polisi dengan TNI agar dapat nama dan kekuasaan di mata masyarakat yang akan memilihnya di pemilu nanti maupun hari-hari ke depan. 

Tetap fokus pada isu-isu hak asasi manusia di sekitarmu, kawan!

Di tengah dunia yang semakin tidak mementingkan kemanusiaan, bersama-sama: aku dan kamu, kita bisa untuk menjadi manusia seutuhnya. 

Amin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sosok yang Tak Kusadari dalam Diskusi Bersamanya

Nulis Aja

Se(h/kar)at