Kereta
Ini tentangnya. Tentang kami. Yang kelewat serius. Dalam mengartikan suatu hubungan
Dan ternyata, semesta sedang bercanda. Sambil memberikan makna hidup yang paling berharga.
Bahwa mempunyai tempat singgah, bisa kok untuk menjadi rumah. Walau hanya sebentar. Enam jam. Di kereta. Kita pernah saling mendengarkan itu dan saling “sepaham” itu.
Aku tidak pernah menyangka. Dalam sepotong kecil hidupku, bisa merasakan film “Before Sunrise”. Indah di awal dan menguatkan di akhir.
Aku bertemu dirinya di kereta. Kereta dari Stasiun Pasarsenen menuju Semarang Tawang. Aku ingat sekali, itu adalah kembali ke Semarang tersedih yang pernah aku rasa. Aku tak tahu apa penyebabnya kala itu.
Sebelum aku tiba di Stasiun Pasarsenen, aku diantar oleh teman yang pernah aku sukai (haha). Aku ingin mengakuinya saat ia memboncengiku. Tapi, saat itu aku terburu-buru. Jadi, berakhir memendam perasaan dan mengikhlaskan.
Lanjut, saat itu aku ingin mengambil koper di tempat penitipan barang. Sudah jam 22.06 WIB. Sementara di peraturannya jam 22.00 WIB. Berarti sudah lewat. Namun, Tuhan baik. Ia masih terbuka setengah. Lalu, aku bisa deh mengambil kopernya.
Setelah menunggu, aku makan ice cream brooaster chicken (kalau gak salah ya) haha. Lalu, aku menuju gerbong kereta. Dengan tergopoh-gopoh membawa koper, aku mencari tempat yang lengang untuk menaruhnya. Usai menaruh koper, aku mencari posisi kursiku. Nomornya 20D. Ini rasanya aneh. Sebab, tak biasanya aku memilih kursi bagian dalam. Biasanya aku memilih yang di-gang. Dia (laki-laki) juga katanya berbeda, biasanya di dalam. Eh dia, siapa tu? Haha, spill the tea duluan nih. Oke deh kita lanjut!
Aku menemukan kursiku dan hendak menaruh tas di atas. Ia membantuku. Seperti biasa. Lalu, aku menaruh ice cream, headset, handphone. Nah, yang kuingat dari perkataan dia yang duduk di sampingku seperti ini, “Bawa laptop ya mbak?”
Terus aku jawab, “Oh, iya,” dengan senyum cengengesan.
Lalu, sebelum aku duduk, aku ke toilet dulu. Setelah aku dari toilet, ia memiringkan kakinya yang dalam posisi duduk, agar membiarkan aku lewat. Namun, ia tidak keluar terlebih dahulu. Mungkin karena mager kali ya, haha. Jadi aku bilang, “Harus keluar dulu ya mas, ehe,” Lalu keluarlah ia dan mempersilahkan aku lewat.
Aku yang memang suka menegur orang di samping kursi keretaku, langsung bertanya, “Mas-nya mau ke Semarang? Dari Jakarta?”
Lalu ia menjawab, “Oh saya dari Serang tadi, ini mau ke Salatiga,”
“Oh Salatiganya mana? Kopeng?” tanyaku.
“Oh bukan, di ploso,” katanya (kayaknya sebut itu ya wkwk, entahlah)
Lalu ia melanjutkan, “Oh, tau kopeng? Suka naik gunung tah?”
“Hmm, (aku lupa jawab apa, wkwk)”
Intinya aku menyampaikan bahwa pernahnya ke Gunung Ungaran dan Prau (itu pun hampir haha).
Terus, dari sanalah, aku membalas dengan tanya tentang apakah ia pernah naik gunung?
Ia menjawab pernah mendaki merbabu dan fantastisnya menurutku, ia ternyata pernah mendaki leuser.
Dari sanalah perbincangan 2 orang petualang dimulai, haha #anjaiii
Mulai dari pekerjaannya, magangku, keluarganya, dan ya aku ga cerita keluargaku si, hehe (karena terlalu privasi mungkin ya), kuliahnya dulu, hingga ke lagu favoritnya. Aku tau lagu kesukaannya driver lisence #anjaii (Mana gua dapat sim juga pas urus di Jakarta, ga lama sebelum ketemu dia, cihuyy).
Dan tibalah. Ini nih, ini gongnya. Ia bicara gunung, pacarnya dahulu, dan…
Tentang cinta. Aku gak tau ini perasaan cair terbawa suasana aja atau awal malapetaka, haha. Let’s menikmati ajaaa
“Menurutmu, apa beda suka, sayang, sama cinta?” tanya dia.
Dengan santainya aku menjawab, “Kalau suka ya mengagumi aja. Kalau sayang, ya walau gak memiliki tetap sayang gitu la. Kalau cinta, nah ini aku gak tau, mas,” jawabku.
Lalu dia bilang kalau suka itu blablabla (aku lupa wkwk). Yang aku ingat waktu itu dia bilang “Misal, aku suka sama kamu..” kata guweh teh, ih kalau cowok uda ngomong gitu, uda berani ambil ancang-ancang jir wkwkwkw.
Ya, aku gak tau kalau mungkin topik ini menjadi yang menarik baginya kala itu. Namun menurutku saat itu biasa saja.
Hingga akhirnya, aku mulai mencarinya saat ia hendak merokok di luar. Sebab, kereta sudah berjalan, dan ia belum duduk di kursi. Aku takut dia ketinggalan. Ya basic pertemanan aja sih ini. Kayak sedih dan kasian aja kalau ketinggalan kereta.
Sebab, kita sudah mengetahui nomor telefon (ini biasa di aku untuk strangers karena ketemu banyak orang dan emang suka berjejaring aja si wkkw). Aku mulai mencarinya.
“Dimana mas?”
“Sedang mencari inspirasi” wkwk lucu banget lagi. Tapi aku masih mikir apa dia ketinggalan kereta dan keasikan ya, jadi masih bisa bercanda.
“O di toilet berarti” tanyaku.
“Pintarnya sudah paham,” jawabnya.
Setelah itu, dia kembali ke tempat duduk. Setelah ia menyampaikan bahwa ia bosan karena perjalanannya seperti lama. Lalu ya aku mengiyakan saja (mungkin orangya bosenan kalau gak ngapa-ngapain, wkwkwk).
Ia kembali duduk. Ia mulai menawarkan donatnya. Dan lebih gong lagi, ia menawarkan untuk pinjam earpodnya. Eh kata guweh teh, ngapain anjirr itu, nawarin-nawarin kek di film-film jir, manis banget haha.
Aku awalnya mengucapkan terima kasih untuk menolaknya. Sampai akhirnya aku iseng mengatakan ini sambil memegang earpodnya, “ih lucu banget ini.”
Hmm, kata guweh teh kok tumben guweh kek cewek dari omongannya. Biasanya cuek final boss wkwkw.
Terus dia bilang, “Kamu mau? Ambil aja”
What? Kata guweh teh yang bener aja?
Sebenernya gua tau si bukan masalah uangnya, tapi kepercayaannya buat kasih gitu aja. Itu rare cuyy rare wkwkwkw.
Yaudah gua ucapin terima kasih dah. Lanjutlah kita masing-masing. Aku nonton video dan mau kutunjukkin la video itu. Tapi karena aku liat dia lagi pakai hp, ya daripada asal ngomong, aku bilang deh “eh maaf mas, liat ini deh ehehe..”
Terus, pas uda selesai kita bahas video itu dia bilang, “Kenapa kamu masih minta maaf, padahal kamu gak salah? Padahal aku telah memberikan akses untukmu sedari tadi kita ngobrol? Ya aku kecewa aja si,”
NAH. Di sini, aku merasa kayak ada perasaan yang tidak biasa. Apa yang dia bayangkan dari aku untuknya begitu?
Dia mulai berekspektasi kah?
Lalu, kita persingkat aja lah ya. Kita merencanakan untuk naik gunung bareng. Kita berencana yang aku juga yakin, aku belum bisa karena saat aku menjadi mapala, sudah cukup buatku “kapok” haha.
Tapi, ya aku menikmati perbincangan itu saja.
Hingga ia menyampaikan bahwa kalau suatu saat kita bertemu lagi pasti ada yang bilang, “Tuh kan…”
Eh nyatanya gak ada “Tuh kan” sampai sekarang, haha (sedih).
Usai kami turun, ia menghubungiku. FU (Follow Up) lah ceritanya.
“Udah pulang belum?” tanyanya.
“Belum, lagi baca nih sambil ngaso,” jawabku.
“Sip, dibuka jendela seluas-luasnya, nanti kita eksplor dunianya bareng-bareng ya (emot hormat tangan di kepala)”
KATA GUWEH, JIR LAH. P MAKSUD! WKWKW
Oke, polosnya guweh tetep berpikir positif, ah enggak kali mungkin emang janjian naik gunung kan tadi.. wkwkwkw
Sampai lah aku di kos. Terus ia bilang mau berangkat ke Cepu. Tempat kerjanya. Aku bilang, “Jangan ada yang ketinggalan” karena ya aku sama dia emang pelupa si haha (based on cerita kita).
Terus dia jawab apa? Tebak saudara-saudara…
“Paling kamunya aja si ketinggalan di Semarang”
Heh, gw paham kayaknya ini gombal wkw
cuma guwa ga mau kegeeran jadi guwa mau make sure. Aku bilang gini.
“Hah, maksudnya aku barangmu yang ketinggalan gitu? wkwkw”
Terus dia jawab lah, “Bukan, maksudnya kamu masa depan yang belum bisa aku gapai” woe la haha.
Dari sana lah, aku belajar menerima benar-benar perasaan laki-laki untuk pertama kalinya di hidup aku #eaa sorakin gua donk wkwkkwkwkw capek dehhh
Singkatnya, ia bilang, “i do interest with u, can we go through?” anjai ditembak gak tuh guwe, perihal kereta galau yang harus meninggalkan Jakarta itu.
Gak guwa langsung balas. Gue bilang guwe bingung risau khawatir. Khawatir kenapa dia tanya. Aku jawab lah, jujur kita beda agama. Jadi emang bisa ?
Ya gua punya prinsip kalau bisa yang seagama aja biar serius, ga buang-buang waktu.
Ya cuman, kalau dunia lagi istirahat, dan untuk nyoba karena guwa penasaran, kenapa enggak? wkwkwkw
Lalu, besokannya, guwa mengiyakan lagi, gua bilang, tapi jangan serius-serius yah.
Ya, puji Tuhan, pacaran la kita. For the first time in my life “Sayang-sayangan” eaaa
karena bukan yang romantis aja si, tapi emang uda slaing percaya lewat cerita waktu itu, jadi sah-sah aja udah kenal walau sedikit dari cerita aja ya.
Lalu, mulailah guwa sendiri muncul dilema. Kok, mulai ada perasaan yang attach banget ya? Ini bakal serius beneran ga si? Gw manjain ego orang ga si? Gw uda sesuai prinsip gua ga si? Gw polos aja dan buang-buang energi ga si?
Terus gw vn lah ke dia, kalau aku dilema. Aku mau menyudahi hubungan yang gak bisa aku liat masa depannya ini. Dia bilang minta waktu buat jelasin. Tadinya aku gak mau. Karena malas untuk bernegosiasi. Namun, kalau aku tak bertemu dengan emosi negatifku, aku bakal gak belajar-belajar tentang emosi dari suatu hubungan.
Lucunya, karena gak bisa pakai wa, pakai google meet lah kita wkkw. Puji Tuhan, jadi tau nama lengkapnya haha. Bisa aja cara Tuhan mengenalkan nih, haha.
Dia bilang kalau perlu tau ekspektasi satu sama lain. Tapi, karena aku kadung atau terlanjur gak liat masa depan, dan anggap ini buang energi serta menunda kesedihan, hubungan beda Tuhan yang dipercayai ini, lebih baik diakhiri saja. Sebab, jika nanti terlalu dalam serius, bagaimana dengan reaksi keluargaku, orang-orang gereja, dan (gak tau si siapa, temen ku keknya pada selaw wkwk).
Jadi, tepat kita jadian pada 28 Agustus 2026 dan mengakhiri hubungan saling sayang mesra ini pada 4 September 2026. Jadi tepat seminggu, haha, Iya seminggu. Mirip lah sama yang menginspirasi untuk tulisanku di laman ini sebelumnya.
Kini, darinya aku belajar bahwa cinta yang sehat adalah yang berbagi vulnerability satu sama lain, nyaman, dan saling menghargai. Satu lagi, perlu ada satu kesamaan yang mengikat. Kayak kita, sama-sama sering jalan-jalan. Kalau dia naik gunung abis, kalau aku sesimpel jalan-jalan aja sih wkwwkkw.
Ternyata cinta satu malam itu nyata. Blind date itu juga nyata. Bahkan semesta yang mempertemukan. Dan kita sama-sama sedang kurang istirahat, patah, dan lelah. Saling mendengarkan dan deep talk sama stranger lawan jenis, itu adalah film “Before Sunrise” paling memberikan jeda di tengah hidup kita yang hiruk-pikuk masing-masingnya.
Terima kasih, “Leuser sayangku”.
Malam hingga dini hari, 26-27 Agustus 2026. Kereta Jakarta ke Semarang. Menyusuri gelap, beristirahat, saling bertukar kisah, dan menyambut realita di pagi: biar jadi kenangan yang manis, sayangku.
Maafkan aku yang belum bisa menjadi “Masa depan yang ingin kau gapai”
Jika katamu tak usah minta maaf, jika kau tak salah. Aku bukan salah. Tapi, aku telah buatmu kecewa. Aku ingin memilihmu. Sayangnya, masih ada banyak tapi.
Terima kasih telah hadir dalam 23.50 hingga 05.41 WIB, itu.
Enam jam, waktu seakan berhenti untuk kita. Dan semesta beri waktu itu untuk kita saling beristirahat.
Semarang, 7 September 2026.
Kos ku.
Komentar
Posting Komentar