Selalu Ada "Pertama Kali”, “Berkali-kali”, dan “Terakhir Kali”

 


Sudah sedari lama aku ingin menuliskan hal ini. Disaat aku tengah menjalani banyak hal “pertama kali” selama beberapa bulan terakhir di kota ini. Kehidupan yang semakin realistis, semakin menyadarkanku agar meluangkan waktu untuk merenung dan memaknai setiap hal. Hal yang apa?

Hal yang menakutkan karena pertama kali mendatangi suatu tempat, hal yang membuat ingin marah, kesal, meregulasi emosi, bahkan hingga tiba di titik pasrah. Setelah merasakan kelelahan akan realita tersebut, ada baiknya untuk aku bersyukur. Mensyukuri setiap hal yang terjadi. Hal yang menuntunku untuk belajar setiap detiknya. 

Namun, setelah merenungi dan mensyukuri banyak hal tersebut, terkadang kita lupa bahwa selalu ada hal “pertama kalinya” yang tanpa kita sadari telah kita lalui. Pengalaman “Pertama kalinya” di hidupku yaitu:

1. pertama kali bertemu seseorang 

2. pertama kali memberi atau menerima suatu hal

3. pertama kali merasa jatuh cinta

4. pertama kali patah oleh ekspektasi

5. pertama kali melepaskan perasaan

6. pertama kali salah

7. pertama kali dimarahi

8. pertama kali diapresiasi

9. pertama kali diabaikan

10. pertama kali lelah karena suatu aktivitas 

11. pertama kali merasa malu

12. pertama kali dipercaya

13. pertama kali ditinggalkan

14. pertama kali ujian

15. pertama kali dibenci

16. pertama kali marah karena hal kecil

17. pertama kali bingung menghadapi suatu hal

dan masih banyak lagi.

Hal ini membuatku sadar, bahwa kita hanyalah manusia biasa. Aku seorang diri, tak ada apa-apanya dibanding alam semesta yang sebesar ini. Banyak manusia melakukan kepentingannya masing-masing tanpa memedulikan diri satu sama lain. Jadi, aku atau kita “mau tidak mau” memerjuangkan “apa yang kita mau” secara mandiri. Makanya, selalu ada yang pertama kali. Sebab, itulah hal yang sepatutnya kita coba untuk kehidupan kita sendiri. 


Bergeser ke pengalaman yang kita rasakan “Berkali-kali”. Nah kalau ini, kita sudah satu level di atas tadi (walaupun bisa jadi sedikit atau banyak). Di fase ini, kita telah melewati banyak hal, sehingga kita “kebal” untuk merasakan hal tersebut. Langsung saja aku sebutkan “berkali-kali” ku, diantaranya:

1. berkali-kali sakit

2. berkali-kali mengagumi seseorang

3. berkali-kali dimarahi

4. berkali-kali kesal

5. berkali-kali marah

6. berkali-kali bosan

7. berkali-kali jatuh

8. berkali-kali senang

9. berkali-kali lelah

10. berkali-kali datang

Dan masih banyak lagi. Tentunya, hal ini sering kita tak sadari terjadi layaknya rutinitas. Tanpa waktu perenungan yang cukup. Sejatinya, hal inilah yang membentukku. Pribadi, keseharian, dan lingkungan di sekitar kita. Banyak orang, termasuk diriku, sudah menghadapi masa pasrah jika sudah di fase ini. 

Selanjutnya adalah yang “terakhir kali”. Ini adalah hal yang bernada menyedihkan, bisa juga menyenangkan, atau gamang, tergantung konteksnya. “Terakhir kali” ku, yaitu:

1. terakhir kali ditinggalkan

2. terakhir kali bersekolah

3. terakhir kali mencintai

4. terakhir kali berjumpa

5. teerakhir kali makan sesuatu

6. terakhir kali ke suatu tempat

7. terakhir kali berkomunikasi

Dan terakhir kali lainnya yang tak banyak aku alami. Setelah aku sadari, ternyata hidup itu adalah perputaran kegiatan. Ada yang datang, bertemu, beraktivitas, pergi. Hanya itu. Dan kita, hanya tanah, dan akan kelam. Bercahaya sementara, kala matahari menunjukkan cahayanya, bagi kita yang gelap dan rentan menyerah. 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sosok yang Tak Kusadari dalam Diskusi Bersamanya

Nulis Aja

Se(h/kar)at