Postingan

Jalan Perenungan

Gambar
Halo, gimana kabar kalian sekarang? Semoga tetap merasakan hidup ya! (amin) Aku ingin menceritakan pengalamanku hari ini yang sangat bang-bing-bung. Aku bangun pagi sambil puyeng dikit . Dikarenakan aku tidak biasa bangun pagi di liburan kali ini, hwhehwehwe . Aku tetap berniat untuk menghadiri sidang salah satu tahanan perempuan. Ia ditangkap perihal story instagramnya yang dianggap mengajak aksi saat Agustus, lalu. Aku sudah bersiap untuk berangkat pukul 9 pagi. Namun, karena aku tidak chill, jadi aku gak lihat poster pengumuman sidangnya, deh . Alhasil, lokasi yang sedang aku tuju salah. Aku baru menyadarinya saat perjalanan. Pasrah nan bingung, akhirnya aku tetap bersikukuh untuk tetap pergi ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan tersebut. Perjalanan gagal dimulai, hehehe . Sebelumnya, kukira lokasi awal di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Jadi, keputusanku yaitu untuk turun di Halte Pasar Baru Timur. Syukurnya, tiba-tiba aku seperti dibisikkan oleh semesta untuk melihat poster di...

Nafas Dua Puluh

Gambar
  Halo, kenalin aku manusia yang pernah kalian kenal (entah sekejap atau sudah lama). Ya, kalian biasa kenal aku dengan sapaan: wina. Sudah lama tak berjumpa dengan tulisan ringan. Kita anggap saja ini ringan ya untuk awalan. Jadi, dalam menulis ini aku ada pantangan. Hanya satu yaitu: “Menulis tanpa menghapus kata untuk mengubah konteks.” Misalnya, aku ingin menulis: “Aku lapar” tapi aku ganti “Aku senang”, nah itu ditentang oleh ketentuan yang aku tulis sendiri. Oke, kita mulai ya, hehe. Satu tahun ini, aku mengalami banyak hal baru dalam hidup. Selama setahun sebelumnya (2024), full-year menjadi anak rantau. Kini aku tertantang untuk melanjutkan hidup kembali di tahun 2025, dengan kiat-kiat yang sudah diberi clue pada tahun-tahun sebelumnya. Hmm , baik kita mulai bahas di bulan pertama. Let’s goww! Januari. Hmm , banyak sekali hal menantang yang aku hadapi bersama teman-teman. Aku mengikuti mahasiswa pecinta alam. Menjadi hal yang menakutkan sekaligus aku tak mau “takut pada ...

Bamboo Chair, Convey My Happiest Regards

Gambar
  This is the story Of an old woman Sitting on a bamboo chair Sipping warm tea Enjoying the dewy morning   She opens a box Where she keeps photos of her childhood Peeking into the world Taking a step back Tracing the mindset of “The Little Adventurer”   In a yellow frame Tap-tap-tap She imagines the rhythm of her blue shoes Strongly supporting her two small feet Stepping on mud Catching frogs Surrounded by happiness In the rice fields at that time   In a pink frame She sees one of her hands Pointing upwards Another hand Holding a piece of poetry During that sweet evening performance   The grandmother's little laugh Wiping away tears of joy Until the night took her To a realm of endless happiness Called the last breath of happiness Bamboo chair, convey my happiest regards To her, “The Adventurous Grandmother” By: writer

(Men)yebalkan

Gambar
Halow, kini aku hendak menceritakan suatu pengalaman yang dirasakan oleh semua perempuan. Ada yang bisa menebaknya? Ya, menstruasi. Mungkin ini akan terdengar tabu atau untuk yang mempersilahkan bahasan ini sebagai suatu yang inklusif: “Terimakasih ya!” Now, let’s begin! Tulisan ini berawal dari keresahanku saat mengalami menstruasi. Seringkali beberapa perempuan menggerutu atau justru senang karena mungkin bisa menggunakan pewarna kuku atau makan banyak, dan lain sebagainya saat menstruasi. Sebuah keresahan bagiku setiap saat ketika sudah masanya menstruasi. Aku ingat sekali, persis sepekan sebelum menstruasi, aku mengalami sakit perut hingga perlu teman untuk ke pusat layanan kesehatan di dekat kampus. Aku kira asam lambungku meningkat, ternyata ini pola berulang sebelum aku menstruasi. Saat hari pertama aku menstruasi, aku seringkali menyalahkan laki-laki (mohon maaf ya ini hanya kekesalan semata, hehe). Pertanyaannya selalu seperti ini, “Kenapa ya, perempuan merasakan sak...

Se(h/kar)at

Gambar
Sebuah kebijakan yang selalu melahirkan kontroversi di publik karena berdampak bagi kesehatan anak-anak. Kebijakannya bernama “Makan Bergizi Gratis” atau biasa disebut MBG. Melansir dari laman BBC, menurut data Kementerian Kesehatan per 5 Oktober 2025, jumlah korban keracunan terkait MBG sejak awal tahun ini telah mencapai lebih dari 11.000 orang. Se(h/kar)at : "Niat ingin sehat atau malah sekarat?" Lantas, bagaimana awal mula ini terjadi ? Panggil saja Prabs. Ia menceritakan pengalamannya menggagas program MBG. Saat Prabs mengunjungi beberapa daerah di Indonesia, mayoritas anak- anaknya mengalami kekurangan gizi. Berangkat dari hal itu, ia memiliki tekad untuk membuat program makan bergizi gratis, seperti yang sudah pernah berjalan di India. Hal itu menjadi motivasi baginya. Lalu dibuatlah Peraturan Presiden nomor 83 tahun 2024 yang mengatur tentang Badan Gizi Nasional dalam penyelenggaraan MBG. Strategi yang diterapkan oleh pemerintah, dalam hal ini Badan Gizi Nasional un...

Tiga Puluh Persen: Hak yang Dikalkulasi, Tidak Tercapai Pula

Gambar
  Budaya yang masih tergolong patriarki menjadi hambatan perempuan dalam berkarya termasuk pada konteks ini yaitu berpartisipasi dalam peran legislatif . Patriarki yaitu paham yang menekankan laki -laki l ebih tahan dari tantangan kehidupan yang ada , sementara perempuan yang t ergolong menerima saja dan melayani ke butuhan emosional orang di sekitarnya . Pembagian peran setelah menikah yang cenderung mengikuti budaya masyarakat pada umumnya , dengan dalih agar pe r an di rumah tangga terbagi dengan jelas , tanpa men g ga nggu k ehidupan di luar rumah tangga , menjadi persoalan yang belum disadari oleh masyarakat luas bahwa hal itu dapat berdampak di berbagai sendi kehidupan . Lantas , apa saja dampaknya ?   Mari kita menguraikan ini dari penyebab , contoh kasus , hingga dampak dari budaya patriarki ini tehadap keterwakilan perempuan yang masih kurang dari angka minimal 30% di kursi parlem...