Jalan Perenungan




Halo, gimana kabar kalian sekarang?

Semoga tetap merasakan hidup ya! (amin)

Aku ingin menceritakan pengalamanku hari ini yang sangat bang-bing-bung. Aku bangun pagi sambil puyeng dikit. Dikarenakan aku tidak biasa bangun pagi di liburan kali ini, hwhehwehwe. Aku tetap berniat untuk menghadiri sidang salah satu tahanan perempuan. Ia ditangkap perihal story instagramnya yang dianggap mengajak aksi saat Agustus, lalu. Aku sudah bersiap untuk berangkat pukul 9 pagi. Namun, karena aku tidak chill, jadi aku gak lihat poster pengumuman sidangnya, deh. Alhasil, lokasi yang sedang aku tuju salah. Aku baru menyadarinya saat perjalanan. Pasrah nan bingung, akhirnya aku tetap bersikukuh untuk tetap pergi ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan tersebut. Perjalanan gagal dimulai, hehehe.

Sebelumnya, kukira lokasi awal di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Jadi, keputusanku yaitu untuk turun di Halte Pasar Baru Timur. Syukurnya, tiba-tiba aku seperti dibisikkan oleh semesta untuk melihat poster digital tersebut. Benar saja, lokasi tujuan berbeda dengan dugaan yang aku ingat tidak secara benar. “Bisikan” tersebut aku dengar dan aku lakukan sebelum aku turun di Halte Pasar Baru Timur. Jadi, berkat melihat poster yang benar, aku jadi tidak turun di Halte Pasar Baru Timur. Namun, nuraniku seakan berbisik, “Udah, turunin ego lu. Turun aja di situ, toh ada sidang dengan agenda dari tahanan politik yang lain, juga.”

Sedikit refleksi, ternyata kalau kita gak punya prinsip dalam bertindak, rezim yang sangat berprinsip bisa menggoyahkan kita dengan mudahnya, ya. Maka, sekarang aku belajar berprinsip sekecil apapun itu. 

Kembali ke cerita, aku tetap bertahan untuk ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel). Berkat sikap “keras kepala”-ku itu yang sedari lama, aku mulai perjalanan meratapi sanksi dari sikap tersebut. 

Oh iya, mulai sekarang selain prinsipal, aku mau belajar jadi fleksibel. Amin, hehehehe.

Menuju PN Jaksel

Aku memutuskan untuk akhirnya turun di Halte Juanda. Lalu melanjutkan kereta. Aku masih optimis sampai saat itu. Walau akan telat dikit. Aku naik kereta untuk tiba di Stasiun Pasar Minggu. Setelah menaiki kereta, aku bermain handphone. Lalu, karena distraksi tersebut aku melihat berita di Kompas terkait aksi saat itu. Disiarkan bahwa terdapat aksi terkait penolakan KUHP yang baru saja diberlakukan. Aksi tersebut direncanakan di depan Gedung DPR/MPR (dalam berita itu). Lalu, tanpa pikir panjang ditambah distraksi informasi tersebut, aku langsung membuka aplikasi penelusuran peta daring (Google Maps). 

-Gedung DPR/MPR- (penelusuranku di handphone)

Tujuan stasiun terdekat dari gedung tersebut adalah Karet. Aku memutuskan untuk berhenti di sana dan turun. Pasca suara terdengar, “Sebentar lagi, anda akan tiba di Stasiun Karet”, aku pun bersiap untuk bertempur. Aku ingat sekali saat pintu kereta terbuka, aku mengatakan, “Siap tempur!” 

Haha, macam anak kecil. 

Setelah aku turun, aku langsung pesan maxim untuk menuju Gedung DPR /MPR tersebut. Bersyukur, aku melihat keadaan terlebih dahulu. Aku juga mengkomunikasikan pada pengendaranya, “Bang, kalau ada aksi saya berhenti di sana ya. Kalau gak ada, ke Stasiun Palmerah aja.”

Kenapa di stasiun itu? Ya, karena terdekat dari gedung tersebut. 

Aku dan abangnya yang deg-degan, “Ada aksi apa gak?” dalam hatiku seperti melonglong terus. Hingga tibalah di lokasi aksi yang disiarkan oleh media sebelumnya. Ternyata, kosong. Tidak ada satu massa aksi di sana. 

Aku tidak tahu, sudah pulang atau dibatalkan?

Sebenarnya menjadi hal biasa jika itu terjadi di Semarang. Namun, biasanya aksi tersebut telat. Aku pun mau tidak mau legowo  dengan hal tersebut.

Saking bingungnya, aku termenung di dekat Stasiun Palmerah. 

Sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Berkali-kali gagal ke lokasi, pula (mhwemhwemhwe).

Tidak apa-apa, bukannya aku harus membayar sikap keras kepala-ku di awal? 😊

Berbagi Majalah

Aku pun berpasrah dengan agenda selanjutnya yaitu memberikan buku majalah anak ke lokasi donasi untuk bencana Sumatera. Lokasinya di Bendungan Hilir. Cukup jauh dari Stasiun Palmerah. Namun, aku menghitung saldo yang banyak keluar, aku memutuskan untuk berjalan kaki guna menghemat pengeluaran. Lagipula, aku tidak terburu-buru karena sudah “terseok-seok akibat tertimpa tangga”.

Aku berjalan selama kira-kira 40 menit. Panas dan mendung silih berganti. Bersamaan dengan kereta yang sibuk menyeberang. Sekali-kali aku berteduh untuk membaca tulisan di handphone. Tibalah aku di rumah tempat mengumpulkan buku donasi. Lalu, aku mampir untuk makan di pinggir jalan sekitar Pejompongan. Seusai itu, aku langsung melanjutkan perjalanan ke Perpustakaan Nasional (Perpusnas). Aku akhirnya berjalan selama kurang lebih 30 menit. Mungkin, Tuhan tahu aku lelah sekaliiiiii, dengan kesadaran penuh aku mendatangi angkutan umum  bernama “Jaklingko”.

“Bang, ke arah monas?” tanyaku. Ya, karena Perpusnas dekat dengan Monumen Nasional (Monas).

“Mau ke mana dulu?” tanya pengemudi angkutan tersebut.

“Ke Perpusnas, bang.”

“Oh iya, bisa. Nanti transit naik 10,” arahnya.

Perenungan 

Aku akhirnya menaiki jaklingko tersebut. Perjalanan perenunganku dimulai di angkutan ini.

Di Pasar Tanah Abang, aku melihat banyak orang membawa berkilo-kilo karung dibantu dengan kerangka gerobak yang menjadi wadahnya. Mereka mendorongnya dengan sekuat tenaga. Tak jarang mereka kelelahan dan berhenti untuk beristirahat. Seorang bapak berhenti sebentar, aku melihat bapak itu berhenti hanya sekadar untuk bernafas karena membawa barang di atas alat dorong yang berat.

Terbuai dengan romantisasi pekerja, aku harus turun karena sudah tiba pada tujuan akhir, Tanah Abang. Bingung lagi. 

Aku melihat angkutan nomor 10 seperti yang disampaikan oleh pengemudi sebelumnya. Namun, setelah aku melihatnya, belum ada yang menaikinya. Akhirnya, aku putuskan untuk berjalan. Lagi-lagi, semesta tak ingin aku kelelahan. Jadi, aku menaiki angkutan Trans Jakarta (TJ).

Kehadiran seorang petugas TJ, mewarnai hariku yang kusam kala itu.

“Capek amat kayaknya neng,” tegurnya spontan.

“Iya nih, orang muter-muter,” jawabku dengan nada mengeluh seakan simbol: akhirnya didengar!

Percakapan kita sampai menyisakan tiba di dekat Perpusnas. Akhirnya, aku turun dan melemparkan senyum kepada petugas tersebut. Lalu, mengucapkan terima kasih pada pengendara TJ di depan. Selepasnya, aku tiba di Perpusnas. Membaca buku, tertidur, terbangun karena ada zoom meeting. Pasca itu, aku berinisiatif untuk “bernafas”.

Bernafas yang aku maksud yaitu berhenti sejenak di tengah hiruk-pikuk kota. Sekitar 30 menit aku terduduk di kursi depan trotoar Monas, samping Perpusnas. 

Aku melihat sekeliling dan serunya mengingat mobilitas mereka yang serba terburu-buru.

Ada seorang petugas pemotong rumput.

Ada seorang perempuan yang aku baru lihat seumur hidupku bahwa ternyata ada yang mengendarai taksi. 

Ada disabilitas yang terbiasa mengendarai sepeda.

Ada seorang ibu yang menggendong anaknya untuk menyeberang.

Ada sepasang perempuan dan laki-laki yang menari ringan sebelum zebra cross, kala mendengar lagu daerah Betawi.

Ada lelaki muda yang tampak kebingungan mencari sesuatu dengan tas yang miring tergendong di pundaknya.

Tiba-tiba, ada seorang perempuan yang duduk di sampingku. Kaget aja kan tadi sendiri, hehe.

Ada sekumpulan orang yang cara menyeberangnya semakin di luar jalur.

Ada pegawai berjalan.

Ada anak muda yang santai mengendarai skuter.

Lalu, aku yang baterai handphone sudah 9% dan jam menunjukkan pukul 17.02 WIB, memutuskan untuk pulang. Berdiri-duduk di TJ yang adem karena ac. Lalu, melanjutkan dengan menaiki jaklingko yang tak ada ac, namun aku terasa tidur pulas. Hingga, cilor yang aku beli (plastiknya yang setengah full saos) mengenai celana-ku (syukurnya sedikit).

Pulang pukul 19.00 WIB. Sepuluh jam sudah aku mengikuti arah angin yang membawaku. Menjelajah dan mengusap dada sambil kini berkata, “Lain kali tujuannya jelas, neng.”

 

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sosok yang Tak Kusadari dalam Diskusi Bersamanya

Nulis Aja

Tiga Puluh Persen: Hak yang Dikalkulasi, Tidak Tercapai Pula